Selarakta

Beranda / Sastra / Cerpen

Cerpen

Inspiration does exist, but it must find you working.

Pablo Picasso

Beberapa cerpen Kanya yang pernah terbit di media masa.


Kado Pernikahan yang Sesungguhnya

Kado Pernikahan yang Sesungguhnya

Oleh

Untuk menyiapkan hidangan kesukaannya, sudah sejak subuh saya berkutat dengan peralatan masak—wajan, panci, dandang, dan lainnya. Setelah dua bulan ditinggal pergi ke perantauan, akhirnya ia memberi kabar bahwa akan pulang dengan membawa buah tangan yang bisa menemani hari-hari saya. Kejutan buat saya, katanya sewaktu menelepon semalam hingga membuat pikiran saya kian terngiang-ngiang. Sungguh, rasa bahagia begitu menyesakkan dada saya mendengar itu semua.

Baca Lebih Lanjut


Ada Luka di Kaki Ibu

Ada Luka di Kaki Ibu

Oleh

Dua tahun silam, kaki Ibu terkena serpihan beling yang dijatuhkannya ketika sedang mencuci piring. Jari kaki ibu terluka. Saya masih ingat betul ketika Bapak mencabut serpihan beling di kakinya lantas membersihkannya dengan air hangat, diberi antiseptik, dan lalu diperban.

Baca Lebih Lanjut


Kunjungan Jumat Wage

Kunjungan Jumat Wage

Oleh

Mengaku dari sebuah yayasan ternama yang mengasuh anak yatim-piatu, dua perempuan berbadan gemuk: yang satu membawa kertas, satunya lagi membawa amplop, selalu mendatangi rumah kami setiap Jumat Wage. Mereka selalu berdandan necis: memakai gamis, berkerudung, menenteng tas berwaran mencolok, bergincu, dan yang paling menonjol ialah perhiasan di tangannya.

Baca Lebih Lanjut


Rumah untuk Istriku

Rumah untuk Istriku

Oleh

Tanah yang ditanami temulawak dan kunyit ini adalah milik kita sebulan yang lalu setelah menerima kwitansi tanda lunas dari pemiliknya. Setiap hari kau menyisihkan uangmu dari hasil melinting tembakau untuk mencicil tanah ini. Namun, kau tak menepati janjimu kepadaku. Kau lebih dulu pergi sebelum di atas tanah ini berdiri bangunan yang kokoh seperti yang kau idamkan.

Baca Lebih Lanjut


Hukuman untuk Istri Tukang Becak

Hukuman untuk Istri Tukang Becak

Oleh

Di atas sana tampak mega-mega berarak ke arah barat siang ini. Langit berwarna kelabu pekat memayungi orang-orang yang berkerumun di dekat sumur hendak menyaksikan diselenggarakannya hukuman bagi seorang perempuan yang menduakan suaminya. Entah hukuman apa yang pantas diberikan kepada perempuan yang tak mampu menjaga kehormatan dan keutuhan keluarga.

Baca Lebih Lanjut